ELEVATOR JALAN-RAYA
UNTUK
PARA PENYEBERANG
----------------------------------------------
Pendahuluan
Dengan
kendaraan bermotor bermacam jumlah roda terus menyerbu perkotaan Nusantara dan Mancanegara,
mulai kecil apalagi yang besar menelusuri perjalanan waktu, para pejalan-kaki
(pedestrian) yang menyeberang jalan-raya di kota-kota padat penduduknya mendapat
semakin sedikit waktu menyeberang di lampu merah berlambang zebra disediakan.
Para penyeberang jalan-raya mengeluh oleh waktu yang tersedia semakin pendek, demikian
pula keselamatan jiwa manusia untuk sampai diseberang yang tidak terjamin. Para
pejalan-kaki merasa sangat dirugikan oleh banyaknya waktu berharga terbuang
percuma menunggu peluang menyeberang jalan yang makin langka. Menyeberang jalan
kini menjadi permasalahan pelik yang tidak mudah dipecahkan oleh para walikota
menelusuri waktu terlebih pada jam sibuk hari-hari kerja dewasa ini. Selain itu
masalah lain yang ditemui, memberi peluang kepada para pejalan-kaki menyeberang jalan-raya
di zebra-cross menimbulkan antrian panjang kendaraan bermotor yang menghamburkan
gas buang hasil pembakaran BBM mencemari udara kota sekitar. Dan yang akhir
ini jelas mengganngu kesehatan warga kota yang tengah berlalu lalang disekitar.
Untuk
mengatasi persoalan diatas, terlebih lagi terjadinya kecelakaan lalulintas di permukaan
ja-lan-raya berbagai kota besar yang padat penduduknya Tanah-air maupun Mancanegara,
sudah tiba waktunya para pejalan-kaki “hijrah” dari menyeberang jalan-raya “satu bidang” menuju me-nyeberang
jalan-raya “dua bidang”, dengan memperkenalkan
prasarana atau infrastruktur penyeberang jalan-raya diperlukan. Adapun
prasarana dimaksud, ialah apa yang dinamakan: Pe-nyeberang Pejalan-kaki Atas
(PPA) atau Overhead Pedestrian Crossing (OPC), dan Penyeberang Pejalan-kaki
Bawah (PPB) atau Underpass Pedestrian Crossing (UPC), dibangun pada berbagai lokasi
strategis di kota-kota besar yang padat penduduknya Tanah-Air maupun
Mancanegara.
PPA
dapat berupa satu atau lebih “jembatan penyeberangan” menghubungkan dua sisi
jalan-raya yang diseberangi para pejalan-kaki ketinggian ± 5 meter diatas muka
jalan-raya, sehingga bera-gam kendaraan bermotor bergerak terpisah dibawahnya.
Sedangkan PPB tidak lain dari satu atau lebih perlintasan atau lorong ± 2.5
meter dibawah muka jalan-raya yang dilewati para pejalan-kaki, sehingga bermacam
kendaraan dapat bergerak terpisah diatasnya. Bagi para pejalan-kaki PPB lebih
diminati, karena “menuruni” tangga sedalam ± 2.5 meter dibawah permukaan jalan
menguras sedikit tenaga (energy) ketimbang naik tangga menuju PPA tinggi ± 5 meter diatas permukaan jalan-raya.
Prasarana Menyeberang Jalan-raya
PPA
dapat didirikan dalam kota yang padat penduduknya untuk melancarkan lalulintas kenda-raan
bermotor roda dua, tiga, empat, dan lainnya, juga memudahkan warga kota
menyeberang jalan-raya tanpa menyebabkan timbulnya kecelakaan lalu-lintas. Akan
tetapi PPB hanya dapat dibangun di tempat-tempat yang dikenal aman dalam kota untuk
menghindarkan timbulnya keja-hatan. Dalam pelaksanaannya, dibedakan dua macam
(kategori) PPA yang mendapat sambutan baik warga kota kecil maupun besar padat penduduknya,
masing-masing: Penyeberang Pejalan-kaki Lurus (PPL) atau Straight Pedestrian
Crossing (SPC) sebagaimana tampak pada Gambar Ia, dan Penyeberangan Pejalankaki
Terpadu (PPT) atau Integrated Pedestrian Crossing (IPC) seba-gaimana tampak pada
Gambar Ib.
Gambar-I
PPL
dan PPT
Sebuah PPL dapat terdiri dari satu atau lebih jembatan
penyeberangan menghubungkan dua sisi jalan-raya yang diseberangi para
pejalan-kaki (pedestrian), sedangkan PPT adalah sejumlah jem-batan
penyeberangan mengitari pertemuan sejumlah jalan-raya (roundabout). Yang
disebut akhir ini tidak perlu bulat bagai lingkaran seperti yang diperlihatkan
Gambar-Ib, tetapi boleh bentuk tertutup sebarang (loop) menurut keadaan
lingkungan pertemuan jalan-jalan raya (motorway in-terchange) dikelilingi kota
besar yang padat penduduknya Tanah-Air atau Mancanegara dibica-rakan.
Dengan telah adanya PPL (SPC) dan PPT (IPC) di kota-kota
besar yang padat penduduknya, baik Nusantara maupun Mancanegara, menyeberang
jalan-raya di berbagai kota besar yang padat penduduknya, menyebarang
jalan-raya “budaya lama” dibantu tangga perlu ditinggalkan untuk hijrah ke
“budaya baru” dibantu sarana naik turun, disingkat “sanatu”, atau “elevator jalan-ra-ya”. Sanatu atau elevator jalan-raya
dirancang khususn untuk para pejalan-kaki (pedestrian) yang menyeberang
jalan-raya. Dengan demikian, menyeberang jalan-raya di tengah terik matahari
atau dinginnya tengah malam tidak perlu lagi menguras tenaga (energy) tubuh manusia,
atau para pejalan-kaki. Budaya lama selain telah ketinggalan zaman, juga tidak layak
lagi digunakan me-ngingat keamanan dan kenyamanan para pejalan-kaki yang tidak
terjamin, sebagaimana yang telah diatur dalam “Standardisasi Nasional Menyeberang
Jalan Indonesia” (SNMJI). Menyebe-rang jalan-raya budaya lama dengan tangga
perlu diakhiri di kota-kota yang padat penduduknya baik, Nusantara maupun
Mancanegara oleh alasan sederhana, yakni: menyalahi “hak azasi ma-nusia” karena menyalahi ketentuan SNMJI.
Perlu dicatat jalan-raya sudah semakin dikuasai sa-rana angkutan bermotor
bikinan manusia, sehingga untuk keselamatan jiwa para pejalan-kaki (pedestrian)
harus mendapat perlindungan undang-undang yang telah diatur dalam SNMJI agar selamat
sampai ke tujuan diseberang jalan-raya.
Sanatu atau Elevator
Yang disebut dengan “sanatu” tidak lain dari “bilik-angkut”
orang, atau ruang-angkut orang, dan lebih populer dengan sebutan “elevator”.
Dengan elevator para pejalan-kaki (pedestrian) dinaik-kan dari muka jalan-raya
ke satu sisi PPL (SPC) ketinggian sekitar ± 5 meter, kemudian menu-runkan para
pejalan-kaki (pedestrian) dari sisi lain PPL (SPC) kembali ke muka jalan-raya
dise-berangi. Sanatu atau elevator juga menaikkan para pejalan-kaki
(pedestrian) dari muka jalan-raya ke satu sisi PPT (IPC), sebaliknya menurunkan
para pejalan-kaki (pedestrian) dari sisi lain PPT (IPC) kembali ke muka
jalan-raya. Gambar-II memperlihatkan sebuah sanatu terdiri dari satu ka-bin yang
bergerak naik atau turun dan penyangga yang dibutuhkan. Gambar IIa memperlihatkan
“topang luar” (external support) berupa sangkar, sementara Gambar IIb
memperlihatkan “topang tengah” (central support) berupa tonggak. Adapun
teknologi digunakan untuk menaikkan atau menurunkan bilik (kabin) elevator sangat
sederhana, yaitu: 1. Bolt-Nut dengan Bevel Gear, atau 2. Rack-Pinion dengan
Bevel Gear dan Worm Gear, dijalankan motor induksi rem (brake induc-tion
motor).
“Ruang angkut” sanatu bekerja menganta para pejalan-kaki (pedestrian)
dari permukaan jalan-raya menuju ketinggian PPL (SPC) atau bagian PPT (IPC),
sebaliknya menurunkan para pejalan-kaki (pedestrian) dari sisi lain PPL (SPC)
atau bagian PPT (IPC) kembali ke permukaan jalan-raya seberang. Ruang angkut
ini selanjutnya diberi nama: Elevator Pejalan-kaki, disingkat EP, atau
Pedestrian Elevator, disingkat PE. Dengan meninggalkan “budaya lama” dan berhijrah
ke “budaya baru”, para pejalan-kaki (pedestrian) dari segala generasi mulai
normal hingga para di-sabel (disable) dimanapun akan dapat menyeberang
jalan-raya kota-kota yang padat penduduk-nya dengan mudan dan selamat sampai
diseberang sesuai SNI yang berlaku.
Dengan berhijrah ke budaya baru, para pejalan-kaki (pedestrian)
kota-kota yang padat pendu-duknya saat akan menyeberang jalan-raya: pertama akan
dinaikkan EP ke PPL atau bagian PPT tinggi sekitar ± 5 m diatas jalan-raya. Lalu
membiarkan mereka berjalan-kaki sepanjang PPL a-tau bagian PPT yang datar, lalu
dari sisi lain PPL atau bagian PPT, pejalan-kaki (pedestrian) akan diturunkan EP
kembali ke muka jalan-raya seberang.
Daya angkut EP (PE) tergantung luas lantai bilik atau
elevator. Semakin luas lantai ini, semakin baanyak orang yang dapat diangkut
bilik atau kabin elevator. Dalam merancang EP perlu di-tetapkan “standard daya
angkut” bilik atau kabin EP (PE), seperti: 5 orang, 10 orang, 15 orang, 20
orang, 25 orang, 30 orang, dan lainnya.
PPL dan PPT dapat dibuat dari konstruksi beton bertulang, seperti
tempat berjalan kaki (pe-destrian crossing) setinggi ± 5 meter diatas muka jalan-raya
untuk para pejalan-kaki (pedestrian), demikian juga konstruksi baja untuk EP
(PE) termasuk bilik atau kabin. Sebagai bagian dari kon-struksi beton, beton
pratekan (reinforced concrete dapat dimanfaatkan), seperti untuk: pembuatan
badan jembatan, dan beragam tiang penyangga yang digunakan. Dalam pembuatan EP
(PE), tidak diragukan lagi diperlukan juga baja kanal-C atau baja kanal-H, pipa
baja, plat baja, dan la-innya, tidak terkecuali pembuatan pagar pembatas dan
pengaman, supaya lebih ekonomis secara keseluruhan.
Terdapat dua macam
EP (PE) dalam pelaksanaannya, masing-masing: Elevator Topang Keliling (ETK)
atau Peripherally Braced Elevator (PBE) sebagaimana tampak pada Gambar-IIa, dan
Ele- vator Topang Tengah (ETT) atau Centrally Braced Elevator (CBE), sebagaimana
yang tampak pada Gambar-IIb.
Gambar-II
ETK adalah
konstruksi baja yang mempunyai penampang persegi atau bulat seperti sangkar, di
dalam mana bilik atau kabin para pejalan-kaki (pedestrian) dapat bergerak naik
atau turun. Ada-pun ETT, adalah tiang tengah terbuat dari baja atau beton, di sekeliling
mana bilik atau kabin untuk pejalan-kaki (pedestrian) berbentuk sangkar dengan penampang
persegi atau bulat yang dapat bergerak
naik atau turun. Berbeda dengan lift bangunan tinggi, ETK dan ETT tidak mem-butuhkan
kabel baja untuk menggantung bilik atau kabin berikut dan perlengkapannya,
tetapi memerlukan pelataran atau platform untuk lantai dengan empat Alat Angkat
(AA) atau Lifting Device (LD) teknologi sederhana, yaitu: 1. Bolt-Nut
dengan Bevel Gear, atau 2. Rack-Pinion de-ngan Bevel Gear dan Worm Gear,
digerakkan motor induksi-rem.
Empat AA (LD) akan menaikkan pelataran bilik atau kabin berikut
para pejalan-kaki (pedestrian) serentak kesuatu ketinggian, atau sebaliknya
menurunkan bilik atau kabin berikut para pejalan-kaki kebawah dari suatu
ketinggian serentak, dilaksanakan sistim mekanik yang terdapat dalam
kompartemen dibawah lantai bilik atau kabin. Bilik atau kabin yang terdapat
dalam ETK atau ETT tidak dapat merosot atau turun dengan sendirinya oleh berat
bilik atau kabin termasuk para pejalan-kaki (pedestrian) di dalamnya, kecuali
digerakkan motor induksi-rem. Dengan perkataan lain, ETK and ETT dengan bilik
atau kabin bersama para pejalan-kaki (pedestrian) dalamnya tidak dapat bergerak
turun atau naik, kecuali mendapat perintah untuk melakukannya.
Tenaga listrik diperlukan menggerakkan ETK dan ETT
diperoleh dari jala-jala PLN, atau sumber listrik lain, melalui kabel daya
menuju panel ETK dan ETT, dan dari yang akhir ini dengan kabel tembaga lemas
(flexsible wire) menuju bilik atau kabin. Pilihan lain, memanfaatkan tiga rel
tem-baga terisolasi yang dipungut tiga sikat karbon. Apabila jaringan PLN gagal
menyediakan daya listrik, sebuah sumber tenaga listrik darurat (emergency power
supply) dapat ditempatkan keda-lam bilik atau kabin.
Sumber listrik lain yang juga dapat digunakan ialah tenaga
surya (sun energy) memanfaatkan pa-nel surya, dan peladangan angin (wind farm).
Tenaga listrik dibutuhkan selain untuk menaikkan atau menurunkan bilik atau
kabin beserta para pejalan-kaki didalamnya, juga menjalankan sistim listrik, sistim
elektronik, sistim kendali; juga penerangan jalan-raya.
Terdapat Pengendali Logika Terprogram (PLT) atau
Programmable Logic Controller (PLC) da-lam
kompartemen guna antarmuka (interface), supaya para pejalan-kaki (pedestrian)
dapat me-merintahkan sistim elektro-mekanik (electro-mechanical system) ETK dan
ETT bekerja me-naikkan atau menurunkan bilik atau kabin. Juga terdapat saluran
kendali (control wirings), be-serta tombol-tombol (push buttons) termasuk pemutus-pemutus
batas (limit switches), sehingga ETK dan ETT dapat mengerti perintah para
pejalan-kaki (pedestrian) dengan baik.
Peneyeberangan Jalan-raya Mandiri
Gambar-III
memperlihatkan penyeberangan jalan-raya mandiri, karena hanya bertugas menye-berangkan para pejalan-kaki saja. Penyeberangan
Jalan-raya Mandiri (PJM) untuk para pejalan-kaki (pedestrian) yang
disederhanakan, terlihat pada Gambar-IIIa dibawah ini:
Adapun keterangan dari pandangan atas PPL bekerja sebagai
PJM adalah, dari kiri ke kanan, adalah sebagaimana yang dikemukakan dibawah
ini:
a.
Lajur Angkutan Umum Hilir.
b.
Lajur Angkutan Busway Hilir.
c.
Lajur Angkutan Busway Mudik.
d.
Lajur Angkutan Umum Mudik.
e.
Tapak tempat para penyeberang jalan-raya (pedestrian) berhimpun
atau bubar:
x
- jarak tapak dari PJM.
y
- jarak tapak dari sumbu jalan-raya diseberangi.
Kedua besaran ini tidak perlu sama luas
maupun bentuknya di tepi jalan-raya diseberangi. Dan ini banyak tergantung dari
keberhasilan pemerintah kota membebaskan lahan kebutuhan para menyeberang
jalan-raya (pedestrian), untuk menjadikannya perhentian (halte) bus, menyimak ketentuan
SNI yang berhubungan dengan masalah ini.
f.
PPL.
Gambar-IIIb
Adapun berbagai bagian PPL tampak dari depan ialah sebagai
berikut:
f. PPL menghubungkan kedua
sisi jalan-raya diseberangi.
i. Tiang penyangga yang ada ditengah.
g. EP (PE) berada di kedua
ujung PPL, masing-masing terdapat diatas tapak kanan
dan tapak kiri.
h = tinggi PPL ± 5 m diatas jalan-raya yang diseberangi.
Gambar-IIIc
Gambar-IIIc memperlihatkan PPL mandiri tampak dari samping.
f.
PPL tinggi ± 5
meter diatas jalan-raya.
g.
EP (PE) tampak dari samping diatas sebuah tapak.
Ketika akan menyeberang jalan-raya, pejalan-kaki (pedestrian)
perlu terlebih dahulu menurunkan EP (PE)
apabila sedang berada diatas sedemikian rupa, sehingga lantai bilik atau kabin
rata de-ngan permukaan tapak. Dengan menekan Tombol Buka (TB) dari luar, pintu
bilik atau kabin akan terbuka, dan para pejalan-kaki dapat masuk. Dengan
menekan Tombol Tutup (TT) dari da-lam bilik atau kabin, EP akan bergerak naik
dan baru berhenti setelah menyentuh pemutus batas (limit switch) bagian atas.
Selanjutnya TB ditekan, dan pintu bilik atau kabin akan terbuka dan para
pejalan-kaki (pedestrian) lalu keluar menuju PPL, atau bagian PPT. Selesai.
Menurunkan para pejalan-kaki (pedestrian) dari ketinggian
PPL (SPC) atau bagian PPT (IPC), diawali menaikkan EP (PE) manakala sedang ada
dibawah sedemikian rupa, sehingga lantai bilik rata dengan lantai PPL (SPC)
atau bagian PPT (IPC). Dengan menekan TB dari luar, pintu bilik atau kabin membuka
dan para pejalan-kaki (pedestrian) dapat masuk. TT lalu ditekan dari dalam membuat
bilik atau kabin bergerak turun, baru berhenti setelah menyentuh pemutus batas (limit
switch) bagian bawah. Selanjutnya TB ditekan dari dalam membuat pintu bilik atau
kabin mem-buka, dan para pejalan-kaki (pedestrian) keluar ke permukaan tapak-seberang.
Selesai.
Terdapat irama nada berbeda menyertai saat EP (PE) bergerak
naik, atau turun. Maksudnya memberitahukan
orang yang ada disekitar bahwa EP (PE) sedang melayani para pejalan-kaki (pedestrian)
menyeberang jalan-raya.
PPL (SPC) dibangun untuk menyeberang jalan-raya pada berbagai
tempat strategis dalam kota-kota besar yang padat penduduknya dimana banyak kendaraan
melaju pesat, sedangkan PPT (IPC) dibangun mengitari persimpangan banyak jalan-raya
dimana banyak kendaraan juga me-laju pesat. Dengan pemisahan sempurna
pejalan-kaki (pedestrian) dari kendraan, kecepatan rata-rata lalulintas diting-katkan
menuju kecepatan ekonomis kendaraan untuk menghemat pema-kaian bahan-bakar, menurunkan
pencemaran udara, menyingkat waktu tempuh, dan memelihara tertib lalulintas.
Dan yang disebut belakangan, tidak mungkin diperoleh dengan manipulasi atu-ran
lalu-lintas (software atau perangkat-lunak) semata, tetapi harus juga
menghadirkan sarana (hardware atau perangkat-keras) diperlukan: PPL (SPC) berikut
EP (PE), juga PPT (IPC) berikut EP (PE). Inilah yang dinamakan: Software+Hardware Solution, disingkst SHS, atau Peme-cahan Perangkat-lunak+Perangkat-keras, disingkat PPP atau 3P, terhadap persoalan lalu-lintas jalan-raya kota besar yang padat
penduduknya di Tanah-Air dan Mancanegara manapun muka bumi ini.
Menyeberang Membayar
Dengan kehadiran: PPL (SPC), PPT (IPC), dibantu EP (PE) pada
kota-kota besar yang padat penduduknya, maka orang yang sengaja menyeberang
jalan-raya pada tempat “terlarang” perlu dihukum. Dasar “melanggar hukum” mendasari
jelas: 1. Penyeberang sembarangan atau penyeberang liar menyebabkan pengemudi
terkejut, 2. Ia menurunkan kecepatan kendaraan dengan tiba-tiba dibawah besaran
diperkenankan, 3. Pemakaian bahan-bakar menjadi boros, 4. Pencemaran udara meningkat,
5. Tertib lalu-lintas terganggu, dan 6. waktu yang berharga lang-sung terbuang.
Dengan telah terdapat PPL (SPC), PPT (IPC), dengan EP (PE)
di berbagai kota besar padat pen-duduknya Tanah-Air dan Mancanegara, gagasan “Menyeberang
Membayar” (MM), atau “Pay Crossing” (PC) dapat diperkenalkan pada masyarakat berdiam
di perkotaan. Tujuannya menghimpun dana yang diperlukan untuk: 1. Menjalankan (mengoperasikan),
2. Merawat, dan 3. Melunasi cicilan bank untuk pembuatan PPL (SPC), PPT (IPC), berikut
dengan EP (PE) diatas jalan-raya kota-kota besar padat penduduknya; manakala walikota
tidak mengeluarkan uang yang berasal dari pajak. Dengan selogan: “Setiap orang dapat membayar menyeberang“,
atau “Everyone can pay across”, manakala ditemukan seseorang yang
benar-benar tidak memiliki uang samasekali lalu ingin menyeberang agar sampai
ke tujuan, ia akan mendapat uang yang di-perlukan langsung dari si pelola sarana.
Terbuka juga peluang kepada siapa saja yang berniat “sedekah” mendapat pahala memembayar
orang yang tidak punya uang menyeberang agar sam-pai ke tujuan.
Prasarana menyeberang budaya-baru ini mendapat uang masuk tidak
semata dari para pejalan-kaki yang menyeberang jalan-raya. Masih banyak sumber pemasukan
uang lain yang dapat digali dan ini tergantung dari kreatifitas yang mendapat mandat
untuk melola. Dengan kehadiran PPL (SPC), PPT (IPC), dengan EP (PE) di kota-kota
besar yang padat penduduknya di Nusantara dan Mancanegara, orang-orang tua demikian
pula mereka yang cacat jasmani atau disabel akan mudah menyeberang jalan-raya,
dan tidak terkecuali kaum perempuan dan anak-anak.
Sistim Mekanik Sanatu
Untuk menaikkan,
atau sebaliknya menurunkan bilik atau kabin ETK (PBE) dan ETT (CBE) ke suatu
ketinggian tinggi ± 5 meter diatas muka
jalan-raya, sebuah Sistim Mekanik Sanatu (SMS)
dipersiapkan sebagaimana tampak pada Gambar IV. SMS terdapat dalam “Kompartmen”
berada dibawah lantai bilik atau kabin yang hendak dinaikkan atau diturunkan. Yang
akkhir ini menjadi bagian integral atau tidak terpisahkan dari bilik atau kabin
sanatu.
Gambar
IVa
Pada Gambar IVa diperlihatkan
SMS bertugas menaikkan atau menurunkan bilik atau kabin ETK (PBE) bangun sangkar
persegi atau sangkar silinder. Pada Gambar IVb diperlihatkan SMS menaikkan atau
menurunkan bilik atau kabin ETT (CBE) bangun sangkar silinder atau sangkar
persegi. SMS sanatu pilihan ini juga menempati ruang bawah lantai bilik atau
kabin yang tidak menyita ruang amat besar, juga menjadi bagian integral dari
bilik atau kabin. Sebuah bilik atau kabin sanatu jalan-raya rata-rata ditaksir
akan bermuatan 10 hingga 20 para pejalan-kaki (pe-destrian) dewasa untuk sekali
naik atau sekali turun tinggi ± 5 m diatas muka jalan-raya. Bilik atau kabin
sanatu semuanya dibuat dari bahan tembus pandang tidak terkecuali atap,
sehingga para pejalan-kaki (pedestrian) yang berada didalamnya dapat jelas terlihat
dari luar.
Gambar
IVb
Tenaga listrik tiga
phasa diperoleh dari PLN melalui kabel lemas (flexible cable) menuju panel dari
panel Sanatu atau Elevator untuk menjalankan mesin listrik. Pilihan lain lewat tiga
rel tembaga tersekat yang dipungut tiga sikat arang (carbon brushes). Sistim
listrik akan menya-lurkan tenaga listrik kedalam motor induksi-rem lewat “tombol”
ditempatkan didalam bilik atau kabin. Dengan menekan tombol, pejalan-kaki
(pedestrian) akan memerintahkan bilik atau kabin sanatu untuk bergerak naik
atau turun, tergantung dari dimana sanatu sedang berada: diatas atau dibawah.
Sistim listrik menyediakan juga tombol untuk membuka atau menutup pintu bilik
atau kabin, dan bilik atau kabin tidak akan dapat bergerak manakala pintunya
tidak tertutup. Selain dari itu lagi sistim: pantauan, pelapor, pengawas, dan
lampu penerangan. Tenaga listrik cadangan
tersedia dalam Komparteman, sehingga bilik atau kabin sanatu harus selalu
dapat kembali ke permukaan tapak (devault position), manakala listrik PLN sedang
padam.
Alat Angkat
Adapun “cara” digunakan untuk hijrah dari menyeberang jalan-raya “budaya lama” menuju me-nyeberang jalan-raya “budaya baru”,
ialah yang dinamakan: “Alat Angkat” (Lifting Device) de-ngan teknologi: 1.
Bolt-Nut dengan Bevel Gear, atau 2. Rack-Pinion dengan Bevel Gear dan Worm Gear
dijalankan motor induksi rem (brake induction motor). Dengan teknologi ini,
maka layanan lift bangunan tinggi dapat
dipindahkan ke jalan-raya.
Gambar Va memperlihatkan teknologi Alat Angkat, disingkat
AA, atau Lifting Device, disingkat LD, dinyatakan sebagai AA(LD) berteknologi
Bolt-Nut dengan Bevel Gear.
Gambar
Va
Seperti tampak pada Gambar
Va, KSUD (Kolom Silinder Ulir Dalam) digunakan berpasangan dengan SPUL
(Silinder Panjat Ulir Luar) bekerja sebagai AA(LD) guna menaikkan atau menu-runkan
bilik atau kabin elevator. Daya mekanik diperlukan diperoleh dari PDM (Poros
Daya Mekanik) terlihat jelas pada Gambar IVad dan Gambar IVbc. Sudut kemiringan
ulir AA(LD) digunakan menahan agar bilik atau kabin tidak mungkin dapat turun
dengan sendirinya oleh berat bilik atau kabin dimiliki beserta para
pejalan-kaki (pedestrian) yang ada didalamnya, kecuali digerakkan mesin
listrik-rem.
Pilihan lain ialah sebagaimana
yang disajikan dalam Gambar Vb, menampilkan Rack-Pinion dengan
Bevel Gear dan Worm Gear.
Gambar
Vb
Seperti yang terlihat
pada Gambar Vb, BGDS (Batang Gigi Dua Sisi) diwujudkan berpasangan dengan PRGP
(Pasangan Roda Gigi Panjat) bertugas sebagai AA(LD) guna menaikkan atau
menurunkan bilik atau kabin elevator. Daya mekanik diperlukan juga diperoleh dari
PDM (Poros Daya Mekanik) terlihat pada Gambar IVae dan Gambar IVbd. Worm Gear
dimanfaatkan untuk menjaga agar keempat AA(LD) tidak turun dengan sendirinya oleh berat bilik atau
kabin beserta para pejalan-kaki
(pedestrian) ada didalamnya, kecuali digerakkan mesin listrik-rem.
-------------------selesai------------------
Penulis:
H.M.Rusli
Harahap
Pamulang
Residence, G1
Jalan
Pamulang 2, Pondok Benda. Kode Pos: 1541
Tangerang
Selatan, Banten. 11
Desember 2015
Tel.
021-74631125.







